Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul 'Arifin QS.
Pengarang Sirnarasa Publishing

Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul 'Arifin QS.

Profil pengarang di bawah naungan Sirnarasa Publishing STID Sirnarasa.

Biografi

Biografi Singkat Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom)

Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin, yang akrab disapa Abah Anom atau Pangersa Abah Anom, adalah ulama sufi besar, wali Allah yang kharismatik, dan Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berpengaruh di Indonesia dan Asia Tenggara. Beliau lahir pada 1 Januari 1915 di Kampung Godebah, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Keluarga dan Masa Kecil

Abah Anom adalah putra kelima dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh), pendiri Pondok Pesantren Suryalaya dan mursyid TQN silsilah ke-36, dengan ibunda Hj. Juhriyah. Ayahanda beliau, Abah Sepuh, merupakan tokoh ulama besar yang mendirikan Pondok Pesantren Suryalaya pada 7 Rajab 1323 H / 5 September 1905.

Sejak kecil, Abah Anom dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang kental dengan nilai-nilai Islam dan tasawuf. Pendidikan pertama beliau diterima langsung dari ayahanda, yang mengajarkan dasar-dasar ilmu agama kepada para santri dari berbagai penjuru Nusantara.

Pendidikan dan Pengembaraan Ilmu

Pada usia 8 tahun (1923-1928), Abah Anom menempuh pendidikan formal di Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah semacam Tsanawiyah di Ciawi, Tasikmalaya. Namun, pendidikan utamanya adalah pengembaraan spiritual sebagai santri kelana yang berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lain untuk menimba ilmu.

Perjalanan menuntut ilmu beliau sangat panjang dan mengesankan:

1930: Mengaji di Pesantren Cicariang, Cianjur, untuk mempelajari fikih, nahwu, sharaf, dan balaghoh. Di pesantren ini beliau memperoleh ijazah khusus berupa tulis menulis bahasa Arab yang dikenal dengan istilah harupat tujuh.

1932: Melanjutkan ke Pesantren Jambudipa Cianjur, kemudian Pesantren Gentur Cianjur untuk berguru kepada Ajengan Syatibi.?

1935-1937: Belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati, Sukabumi yang dipimpin Ajengan Aceng Mumu, seorang ahli hikmah dan ilmu silat. Di pesantren inilah beliau banyak memperoleh pengalaman dalam berbagai hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin pesantren, serta mendalami ilmu kanuragan dan silat.

Setelah itu, beliau memperdalam ilmu silat dengan berguru kepada Syaikh Haji Junaedi di Pesantren Citengah, Panjalu. Beliau juga melakukan riyadhah dan ziarah ke makam para wali di Pesantren Kaliwungu Kendal (Jawa Tengah) dan Bangkalan (Madura) atas perintah ayahanda, bersama kakaknya H.A. Dahlan dan Kiai Pakih dari Talaga, Majalengka.

Menjadi Wakil Talqin dan Mursyid

Ketika berusia 18 tahun, Abah Anom telah menguasai berbagai ilmu dalam Islam dengan gemilang. Atas kecerdasan, kezuhudan, keluhuran akhlak, dan semangat menuntut ilmu yang melampaui murid-murid Abah Sepuh lainnya, beliau diangkat menjadi Wakil Talqin (pemberi talqin zikir) Abah Sepuh pada usia yang relatif muda. Sejak itulah beliau dikenal dengan sebutan Abah Anom (Abah Muda), untuk membedakan dengan ayahanda yang disebut Abah Sepuh (Abah Tua).

Pada tahun 1939-1945, masa-masa menjelang kemerdekaan Indonesia, Abah Anom lebih aktif sebagai pejuang yang turut menjaga keamanan dan ketertiban NKRI. Ketika terjadi gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat, beliau memutuskan bergabung dengan TNI untuk melawan gerakan tersebut.

Pada tahun 1950, ketika Abah Sepuh berusia 114 tahun, beliau mengangkat Abah Anom sebagai pendamping yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. Setelah Abah Sepuh wafat pada 25 Januari 1956 dalam usia 120 tahun, Abah Anom memimpin Pondok Pesantren Suryalaya secara penuh dan melanjutkan kepemimpinan sebagai Mursyid TQN.

Perjuangan Melawan DI/TII

Masa awal kepemimpinan Abah Anom sangat berat karena harus menghadapi teror dan serangan DI/TII yang menganggap Suryalaya sebagai musuh karena berpihak pada TNI dan pemerintah RI. Tidak kurang dari 38 kali Pesantren Suryalaya mendapat teror dari DI/TII, terhitung sejak tahun 1950 sampai 1960.?

Abah Anom selaku pemimpin Pesantren Suryalaya selalu menginstruksikan kepada para santri dan pengikutnya untuk memberikan perlawanan secara gigih. Atas kontribusinya dalam menjaga keamanan dan keutuhan NKRI, beliau memperoleh penghargaan Satyalencana dari pemerintah RI di bidang keamanan.?

Pembangunan dan Pengembangan Pesantren

Di bawah kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berkembang sangat pesat dan menjadi rujukan para ulama tasawuf serta pusat studi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di seluruh dunia, khususnya di Asia Tenggara. Beliau sangat visioner dan peka terhadap kebutuhan umat serta perkembangan zaman.

Pada tahun 1961, beliau mendirikan Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya untuk mendukung penyebaran TQN serta menangani kegiatan pendidikan, dakwah, sosial, dan pembangunan. Di bawah yayasan ini, beliau membangun berbagai lembaga pendidikan formal mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, hingga perguruan tinggi.?

Abah Anom juga tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan berbagai program pemberdayaan ekonomi lainnya.

Pondok Remaja Inabah: Rehabilitasi Berbasis Spiritual

Salah satu karya monumental Abah Anom adalah pendirian Pondok Remaja Inabah pada tahun 1980-an sebagai panti rehabilitasi remaja korban narkotika, remaja nakal, dan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Nama "Inabah" (?????) yang berarti "kembali kepada Allah" diambil dari Surat Luqman ayat 15.

Metode rehabilitasi Inabah menggunakan pendekatan spiritual yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah, meliputi:

  1. Mandi Taubat (bersuci)

  2. Talqin Dzikir (pemberian bimbingan dzikir oleh mursyid)

  3. Shalat (pemantapan ibadah)

  4. Pembinaan spiritual dan sosial

  5. Shaum (puasa) dan Ziarah?

Hingga beliau wafat, telah berdiri 22 Pondok Inabah di berbagai daerah yang berhasil menyembuhkan ribuan santri binaan yang tergantung pada narkotika. Atas keberhasilannya ini, Abah Anom menerima Piagam "Distinguished Service Awards" dari International Federation of Non-Government Organisations (IFNGO) pada tahun 2006, serta penghargaan dari Pemerintah RI di bidang rehabilitasi korban narkotika dan kenakalan remaja.?

Dakwah dan Pengaruh

Abah Anom dikenal sebagai ulama yang sangat terbuka, luwes, aktif, kreatif, dan inovatif dalam berdakwah. Beliau tidak hanya mementingkan spiritualitas, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilai sufistik ke dalam dunia sosial melalui pembangunan lembaga pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial.

Pada masa kepemimpinannya, ajaran TQN menyebar ke luar negeri, termasuk Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Australia, Eropa, dan Amerika. Beliau mengangkat wakil talqin sebagai upaya penyebaran TQN di berbagai daerah bahkan luar negeri.?

Hampir semua Presiden Indonesia beserta para Menteri dan jajaran pemerintah telah mengunjungi Pangersa Abah Anom di Madrasah Kajembaran Rahmaniyyah Pondok Pesantren Suryalaya. Jutaan orang berdatangan silih berganti untuk memperdalam ilmu tasawuf, bersilaturahmi, meminta petunjuk, memohon doa dan restu, atau sekadar bersalaman.

Penghargaan

Sepanjang hidupnya, Abah Anom menerima berbagai penghargaan dari pemerintah RI, antara lain:?

  • Penghargaan jasa di bidang keamanan (atas perjuangan melawan DI/TII)

  • Penghargaan Satyalencana Pembangunan di bidang Lingkungan Hidup

  • Penghargaan di bidang pertanian, pendidikan, sosial, kesehatan, koperasi, dan politik

  • Piagam "Distinguished Service Awards" dari IFNGO (2009)

Informasi Singkat
Buku karya Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul 'Arifin QS.