Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul QS.
Pengarang Sirnarasa Publishing

Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul QS.

Profil pengarang di bawah naungan Sirnarasa Publishing STID Sirnarasa.

Biografi

Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, yang akrab disapa Abah Aos, merupakan ulama besar, sufi, dan mursyid Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyyah Ma'had Suryalaya Sirnarasa PPKN III, kelahiran Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Beliau lahir pada hari Jumat, 4 Agustus 1944 (14 Ramadhan 1363 H) di Dusun Ciceuri, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu. Abah Aos adalah anak pertama dari pasangan KH. Ibrahim (Mama Ibrahim) dan Hj. Siti Muslihat.

Abah Aos dilahirkan dalam keluarga yang taat beragama dan memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat. Kakek beliau dari pihak ibu, Syekh Muhammad Kahfi, merupakan ulama tersohor di Jawa Barat. Sebelum kelahiran beliau, ibunda tercinta bermimpi didatangi kakeknya Syekh Muhammad Kahfi yang memberi kabar bahwa ia akan melahirkan anak laki-laki bernama Abdul Gaos, dengan pesan bahwa "Syukur kalau dipesantrenkan, kalau tidak pun dia akan menjadi pewaris ilmu laduni". Kelahiran beliau juga istimewa, karena lahir tanpa diiringi darah nifas setetespun, langsung dengan ghuslu al-wiladah.

Pendidikan dan Perjalanan Menuntut Ilmu

Pendidikan formal Abah Aos hanya sampai tingkat SR (Sekolah Rakyat). Namun, ketekunan dan kegigihan beliau dalam mendalami ilmu agama membuat beliau dapat menguasai berbagai cabang ilmu Islam dengan cepat. Pada usia 13 tahun, beliau dikirim untuk belajar di Pesantren Gegempalan yang dipimpin oleh KH. Iskandar Zainal Arifin. Di pesantren ini, beliau dikenal cemerlang, berprestasi, dan senantiasa menjadi santri terdepan.

Setelah delapan tahun di Pesantren Gegempalan, pada tahun 1965 beliau melanjutkan pendidikan ke Pesantren Cintawana Singaparna, Tasikmalaya, yang dipimpin oleh KH. Ishak Farid. Beliau juga sempat mendalami kemampuan qiraatnya di Pesantren Al-Quran Cijantung Ciamis pada tahun 1968, sehingga dalam acara resmi di Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Aos sering didaulat oleh Pangersa Abah Anom untuk mengimami shalat di Masjid Nurul Asror karena lantunan suaranya yang merdu. Abah Aos juga tercatat sebagai hafidz Quran 30 juz.

Pertemuan dengan Guru Agung Abah Anom

Titik balik dalam kehidupan spiritual Abah Aos terjadi pada bulan Maret 1968, ketika pertama kali bertemu dan belajar tasawuf Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) kepada Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom) sebagai mursyid tarekat di Pondok Pesantren Suryalaya. Di hari yang sama saat ingin pamit pulang, beliau bertekuk lutut di hadapan Abah Anom, dan tangan kiri Abah Anom menepuk pundak beliau sambil bersabda mengutip surat Al-Baqarah ayat 247 yang artinya "Sesungguhnya Alloh telah mengangkat Thalut menjadi rajamu".

Sejak saat itu, Abah Aos mengabdi dan menjadi murid setia Abah Anom hingga diangkat menjadi Wakil Talqin dengan kewenangan memberikan talqin zikir TQN Pondok Pesantren Suryalaya kepada masyarakat luas. Abah Aos berguru dengan Abah Anom selama lebih dari 40 tahun, dan jika diakumulasikan, beliau membersamai Pangersa Abah Anom secara dzahir selama 43 tahun hingga Abah Anom wafat pada tahun 2011.

Selepas dari pesantren, Abah Aos mempersunting Hj. Rosliani Hasnah. Bersamaan dengan pernikahannya, pada usia yang tergolong muda yakni 24 tahun (sekitar tahun 1968), beliau mendirikan pesantren yang diberi nama Pesantren Al-Ishlah. Pesantren ini kemudian berganti nama menjadi Pondok Pesantren Sirnarasa pada tahun 1980 dan terkenal hingga saat ini sebagai salah satu pusat pengembangan Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.

Dakwah dan Pengaruh

Dakwah Abah Aos mengalami perkembangan yang sangat signifikan dari tingkat lokal ke nasional hingga internasional. Karir dakwah lokal beliau dimulai sejak 1968 hingga pertengahan 1970-an, namun berkat bimbingan dan fasilitas dari Abah Anom, pada tahun 1980-an beliau dapat mengembangkan dakwah manaqiban hingga tingkat nasional dan internasional.? Beliau mengembangkan manaqiban pada level internasional di wilayah Asia, Eropa Barat, dan Amerika Serikat. Murid-murid Abah Aos tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan berbagai negara seperti Mekkah, Palestina, Amerika, Malaysia, Australia, Taiwan, dan Singapura.

Abah Aos: Ulama yang Produktif dalam Menulis

Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul (Abah Aos) tidak hanya dikenal sebagai ulama, mursyid, dan dai fenomenal, tetapi juga sebagai penulis yang sangat produktif dalam melahirkan karya-karya ilmiah Islam, khususnya dalam bidang tasawuf dan tarekat. Beliau aktif dalam berbagai bidang dakwah, termasuk dakwah bil-lisan (dengan lisan), bil-hal (dengan perilaku), bil-mal (dengan harta), bil-kitabah (dengan tulisan), dan birriyadhoh (dengan latihan spiritual).

Karya-Karya dalam Bahasa Arab

Produktivitas kepenulisan Abah Aos sangat luar biasa, terutama dalam karya berbahasa Arab. Beliau menyusun sebuah kompilasi besar berjudul Majmu'atur Rosail (Kumpulan Risalah), yang merupakan kumpulan kitab berbahasa Arab hasil karyanya sendiri. Di dalam Majmu'atur Rosail ini, terkandung beberapa kitab yang ditulis oleh beliau, di antaranya:

  1. Fadho'ilus-Syuhur (Fadhoilus Syuhur) atau Fadho'il asy-Syuhur li Talib Rida al-Rabb al-Ghafur - membahas tentang keutamaan bulan-bulan Hijriah dalam perspektif tashowwuf

  2. As-Sunnah al-Mardiyyah fi Amaliyyah Murshidiyyah - membahas tentang amalan-amalan yang diridhai dalam praktik kemursyidan

  3. Al-Fathul Jalil fi Alamat al-Murshid al-Kamil - membahas tentang tanda-tanda mursyid yang sempurna

  4. Al-Fikratul Jadidah fi Fadhoilis Syhuhur

Karya-karya berbahasa Arab beliau ini menunjukkan kedalaman ilmu dan kemampuan beliau dalam menulis dengan bahasa ilmiah klasik Islam, sehingga dapat diakses oleh kalangan ulama dan santri di berbagai belahan dunia.

Karya-Karya dalam Bahasa Indonesia

Selain menulis dalam bahasa Arab, Abah Aos juga menulis beberapa buku penting dalam bahasa Indonesia agar dapat diakses oleh masyarakat luas. Di antara karya-karya beliau dalam bahasa Indonesia adalah:

  1. Lautan Tanpa Tepi (Kajian Pembuka Hati) - Buku ini membahas tentang urgensi dzikir dan tauhid dalam kehidupan spiritual seorang Muslim. Buku ini sangat baik dibaca untuk menambah pengetahuan sekaligus menjadi motivasi untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Alloh 'Azza wa Jalla.

  2. Cintaku Hanya Untuk-MU - Buku yang membahas tentang kecintaan dan orientasi hati kepada Alloh 'Azza wa Jalla.

  3. Menyambut Pecinta Kesucian Jiwa - Buku yang mengupas tentang kesucian jiwa dalam perspektif tashowuf.

  4. Bulan Hijriah dalam Dimensi Sufi (atau Fadhoilus Syuhur: Bulan Hijriyah dalam Bingkai Tasawuf) - Merupakan terjemahan dan pengembangan dari kitab Fada'il asy-Syuhur yang beliau tulis dalam bahasa Arab. Buku ini membahas keutamaan dan dimensi spiritual dari bulan-bulan dalam kalender Islam

  5. Saefulloh Maslul Menjawab 165 Masalah - Buku yang disusun dalam bentuk tanya jawab dengan gaya bahasa lisan, membahas berbagai persoalan pelik seputar TQN (Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah). Buku ini menjadi panduan penting bagi para mubaligh TQN dan para ikhwan (pengikut) pada umumnya.

Selain buku dan kitab, Abah Aos juga secara aktif dan rutin mempublikasikan majalah/tabloid berjudul "Nuqthoh" yang digagas sekitar tahun 1998. Tabloid ini membahas tentang berita dan segala hal yang berkaitan dengan TQN Pondok Pesantren Suryalaya, termasuk tausiyah, kajian spiritual, dan berbagai kegiatan dakwah beliau.

Karya-karya Abah Aos juga berkontribusi dalam mendokumentasikan dan melestarikan ajaran Thoriqoh Qadiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya. Beberapa panduan amalan yang disusun atau dicetak ulang pada masa kepemimpinan beliau antara lain kitab 'Uqudul Juman: Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya dan buku Amaliah Mursyid: Amalan TQN Pondok Pesantren Suryalaya.

 

 

*Husni Nur Mubarok, dari Berbagai Sumber.

Informasi Singkat
Buku karya Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul QS.