Buku ini mengupas jalan pengabdian, keberanian perjuangan, dan kewajiban menjaga kehormatan Guru Mursyid Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra, Qs. dalam konteks dakwah Tariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya Sirnarasa di era digital yang sarat fitnah dan kesalahpahaman.โ
Melalui landasan ayat dakwah bil hikmah dan tradisi tasawuf, penulis menjelaskan pentingnya sosok guru mursyid yang kamil mukammil, bukti-bukti kemursyidan Syekh Muhammad Abdul Gaos, serta adab berguru yang benar agar murid selamat lahir batin. Setiap bab membedah berbagai pernyataan dan istilah kontroversial—seperti “Rocky Gerung adalah Rosululloh”, “Umroh ke Eropa”, “1 triliun kali ke Mekkah belum tentu jadi haji, talqin adalah haji jadi”, hingga isu “Imam Mahdi” Anies Rasyid Baswedan, Soeharto sebagai wali kesepuluh Nusantara, dan polemik doa untuk Palestina—dengan pendekatan ilmu, dalil, dan penjelasan makna batin yang tertib. Di saat yang sama, buku ini menampilkan filosofi “ujung tombak” dakwah yang diemban siswa dan alumni Universitas Saefulloh Maslul (USAMA) Sirnarasa sebagai garda terdepan penjaga kemurnian ajaran, penegak adab, dan pelurus opini publik di media sosial.โ
Disusun dalam 14 bab yang sistematis, karya ini bukan sekadar bantahan terhadap tuduhan miring, tetapi menjadi rujukan ilmiah-spiritual bagi siapa pun yang ingin memahami TQN Suryalaya Sirnarasa PPKN III secara lebih mendalam, baik dari sisi aqidah, tasawuf, kebangsaan, maupun posisi Guru Mursyid di tengah dinamika keindonesiaan kontemporer. Dengan bahasa yang tegas namun tetap hikmah, penulis mengajak pembaca untuk membela kebenaran dengan ilmu dan adab, menjaga warisan para wali Allah, serta meniti jalan pengabdian yang lurus menuju ridha Allah 'Azza wa Jalla
| Penulis | Zulfa Muhammad Maulidan |
| Penerbit | Sirnarasa Publishing |
| Jumlah Halaman | 250 halaman |
| Ukuran Buku | 16 cm x 21 cm |
| Berat | 400 gram |
| Jenis Cover | Soft cover |
| Bahasa | Indonesia |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Kategori | Tasawuf |